Macapat Web Indonesia
Rubrik : Lintas tradisi Nusantara
Srawung Seni Candi
2011-01-22 08:18:20 - by : admin

TEMPO InteraktifSurakarta


Gunane panulak iku


Ngedohke bebaya pati


Dhemit setan ora doyan


Janmo dur wedi mring mami


Sarap sawan bali ndalan


Kala kalaning sumingkir


 


 


 


Syair
Kidung Panulak itu didendangkan oleh sejumlah Santri Swaran dari
Ngargayasa, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Diiringi rebana serta
kendang, syair untuk tolak bala itu turut mengisi perhelatan seni-budaya
Srawung Candi, yang digelar di Candi Sukuh, Karanganyar, pada Jumat dan
Sabtu pekan lalu.


 


“Kidung
Panulak merupakan ciptaan Paku Buwana X,” kata pimpinan Santri Swaran,
Suripto. Dahulu, kidung tersebut sering didendangkan oleh para santri
yang ada di Masjid Agung Keraton Surakarta. Melalui kidung itu, mereka
berharap Candi Sukuh dapat terjaga dari segala kerusakan.


 


Dalam
Srawung Candi tersebut, para seniman tidak sekadar mencari inspirasi
dari cerita yang ada dalam relief Candi Sukuh. Mereka juga mencoba
memberikan ‘perlindungan’ kepada candi sehingga membentuk sebuah
simbiosis mutualiasme – hubungan dua pihak yang saling menguntungkan.


 


Kelompok
Reog Bayu Seto dari Sukoharjo, Jawa Tengah, juga mencoba untuk ikut
melindungi candi dari kerusakan. Reog tersebut melakukan ritual dengan
mengelilingi candi. Reog, yang saat ini hanya sering digunakan dalam
kegiatan karnaval itu, dicoba untuk dikembalikan kepada fungsi aslinya
sebagai penolak bala.


 


Sajian
dari seniman Indonesia yang dipentaskan dalam perhelatan Srawung Candi
tersebut cukup menarik perhatian masyarakat desa sekitar candi. Maklum,
rata-rata mereka menyuguhkan kesenian rakyat itu cukup dekat dengan
masyarakat, dibanding performance art yang disuguhkan oleh belasan penyaji dari luar negeri dalam perhelatan kesenian tersebut.


 


Meski
demikian, tidak semua penyaji dari dalam negeri menyuguhkan kesenian
rakyat. Beberapa juga menampilkan seni kontemporer, seperti teater dan
tarian. Salah satunya adalah Komunitas Seni Teku asal Yogyakarta yang
menampilkan karya berjudul Brungkat.


 


Pementasan
teater di bawah hujan deras itu dimulai dengan aksi teaterikal:
merentangkan benang berwarna warni dari atas candi. Benang dengan
gulungan yang cukup besar itu membentang dengan centang perenang, karena
diikatkan dengan pelbagai benda di depan candi.


 


Aksi
itu dilanjutkan dengan adegan pertemuan antara Werkudara dengan guru
sejatinya, Dewa Ruci. Tidak ada kata yang terucap sedikit pun dalam
pementasan tersebut. Olah gerak yang dilakukan menggambarkan cerita saat
Werkudara masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci untuk mendapatkan wejangan
tentang kehidupan.


 


Pementasan
berdurasi sekitar 30 menit itu ditutup dengan kehadiran seorang pria
yang membawa dua ranting kayu berwarna merah di masing-masing tangannya.
Dia mengepakkan dua ranting itu seperti layaknya sayap. Pria tersebut
memerankan Garudeya, burung raksana yang diceritakan dalam salah satu
relief di Candi Sukuh.


 


Menurut
sutradara Ibed Surgana Yuga, mereka ingin mengakrabi ruang sejarah,
ruang mitologi, ruang sosial-budaya dan ruang fisik yang melingkupi
Candi Sukuh. “Cerita tentang Dewa Ruci dan Garudeya yang sebenarnya
tidak berkaitan, bertemu di candi ini,” ujar Ibed, yang banyak berkutat
dengan mitologi itu.


 


Suguhan
kontemporer lainnya adalah pementasan tari Purusa Pradana. Tari yang
dibawakan oleh Agung Rahma Putra dan Kinanti Sekar Rahina itu disuguhkan
melalui gerak yang menampakkan sebuah kekompakan dan kemesraan. Tarian
tersebut bertolak dari konsep purusa pradana dalam Agama Hindu, yang memiliki makna tentang konsep penciptaan.


 


Menurut Agung Rahma Putra, konsep purusa pradana mirip dengan lingga-yoni yang berada di Candi Sukuh. Meski demikian, tarian itu diciptakan bukan
semata-mata untuk dipentaskan dalam Srawung Candi. “Sudah pernah
dipentaskan tahun lalu di Jepang,” kata Agung. Saat itu, tarian itu
meraih Juara Ketiga dalam Festifal Next Dream 21 Dance Contest Volume 9
di Jepang.


 


Suguhan yang juga menarik adalah pertunjukan musik berjudul Bunyi Bagi Alam Semesta. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya pementasan musik dalam perhelatan
Srawung Candi. Dengan menggunakan alat musik Genggong atau Jew’s harp,
I Wayan Sadra mampu menghasilkan suara-suara yang cukup jernih.
Berbagai suara ditirukan, seperti suara burung, katak, hingga tetes air
melalui alat musik yang dimasukkan di mulut tersebut.


 


Musik
itu tidak dipersembahkan bagi penonton. “Ini musik untuk alam di
lingkungan candi,” ujar Wayan Sadra. Pengajar Institut Seni Indonesia
Surakarta itu menilai, alam telah lama tersiksa dengan kebisingan yang
diciptakan oleh manusia. Melalui musik tersebut, dia mencoba untuk
menghibur alam.


 


Salah
satu penampil yang tak kalah menariknya: Ketoprak Ngampung dari
Surakarta. Kesenian rakyat yang cukup populer di masyrakat setempat itu
menyuguhkan sebuah drama tradisional bertajuk Rukun Agawe Santosa.


 


Sesuai
namanya, Ketoprak Ngampung, pementasan itu disajikan secara sederhana.
Cerita yang dibawakan juga melekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu
tentang pemilihan lurah. Sayang, pementasan yang mampu mengocok perut
penonton terganggu oleh hujan. Berbeda dengan ketoprak pada umumnya yang
dimainkan secara indoor, Ketoprak Ngampung selalu dipentaskan di ruang
terbuka.

Macapat Web Indonesia : http://macapat.web.id
Versi Online : http://macapat.web.id/article/32/srawung-seni-candi.html