SIDOARJO
- Perhatian Pemkab Sidoarjo terhadap kesenian rupanya masih kurang. Hal
itu terlihat dari kecilnya dana pembinaan yang diberikan kepada
paguyuban kesenian di kota tersebut. Terhadap 178 paguyuban seni seperti
ludruk, ketoprak, wayang kulit, campursari, orkes melayu, pihak
eksekutif hanya mengucurkan dana Rp 125 juta dari APBD pada tahun 2011.


Kasi
Pembinaan Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata (Disparta)
Sidoarjo, Wiyono, mengatakan, minimnya anggaran yang dikucurkan membuat
instansinya kesulitan dalam melakukan pembinaan. “Kalau anggarannya
seperti itu, tugas kita untuk melakukan pembinaan dan pengembangan tidak
akan maksimal,” terangnya  Selasa (18/1).


Melihat
angka Rp 125 juta itu berarti dalam satu bulan anggatan pembinaannya Rp
10,4 juta per bulan. Kalau keseluruhan ada 178 paguyuban, berarti
masing-masing menerima sekitar Rp 58 ribu per bulan.


Menurut
Wiyono, idealnya anggaran yang dikucurkan itu hanya untuk pengembangan
10 lembaga kesenian saja.  Ia mencontohkan suatu paguyuban kesenian yang
akan menciptakan kreasi baru. “Tak cukup hanya dengan waktu 10 hari,
paling tidak satu bulan. Itu kalau para pemain yang kita pakai adalah
pemain yang sudah bagus, sudah sering melakukan tindakan di bidang
kesenian. Tapi kalau yang kita ambil orang-orang pemula, bisa memakan
waktu sekitar dua bulan bahkan lebih. Waktu yang lama itu karena diawali
dengan melakukan kajian terlebih dahulu,” katanya.


Kurangnya perhatian pemerintah itu membuat beberapa kesenian asli Sidoarjo jadi memprihatinkan kondisinya. Salah satunya adalah Reog Cemandi dan Tari Ujung. Kedua kesenian asli Sidoarjo itu kini hampir punah. Sampai saat ini tingga dua paguyuban yang masih melestarikannya.


 Reog Cemandi adalah kesenian asli Sidoarjo yang muncul sejak 1926.  Yang membedakan
dengan Reog Ponorogo adalah tidak ada warok dan tidak menggunakan bulu
merak. Irama musiknya yang dimainkan pun cukup sederhana, hanya
memainkan angklung dan kendang kecil.


Tari Ujung adalah tarian untuk meminta hujan. Adegan dalam tari tersebut, para
penarinya yang hanya memakai celana terlihat saling menyerang dengan
menggunakan cambuk yang terbuat dari rotan.


Wiyono
menyebut, kedua tarian tersebut sangat potensial untuk dikembangkan.
Karena itu, anggaran yang ada saat ini diprioritaskan untuk melakukan
pembinaan terhadap pelestarian kesenian asli Sidoarjo itu. Dia berharap,
setelah mendapat bantuan, paguyuban yang bersangkutan ini dapat lebih
intens dalam melestarikan kesenian tersebut. “Bantuan soal sarana saja
tidak bisa, apalagi kita memberi bantuan honor. Nggak nyampek anggarannya,” tandasnya.


Meski
minim anggaran, dia berharap para seniman tetap bisa berkreasi
melestarikan seni budaya untuk mengangkat nama Sidoarjo. Seperti pada
2010, sebuah tarian baru bisa diciptakan seniman yakni tari Jong Biru. Tarian ini menceritakan babat alas Tarik. “Itu cerita sejarah yang diambil dari desa Tarik Sidoarjo,” Wiyono.


Terpisah,
ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Mahmud, mengatakan, anggaran yang
dikucurkan itu sudah maksimal. Alasannya, masih banyak pos anggaran lain
yang lebih penting. Karena itu, diharapkan seniman bisa tetap
menyiasati minimnya anggaran yang diberikan pemerintah. “Ya bisa
bekerjasama dengan pihak swasta dan mencari alternatif lain karena kami
menilai sudah cukup,” ucapnya.


Mahmud Yunus
Al Willy, pengurus Dewan Kesenian Sidarjo, ketika dikonfirmasi
mengungkap,  anggaran yang minim itu tidak membuat seniman kehilangan
semangat untuk melestarikan kesenian di Sidoarjo. “Seniman kan tidak
tergantung pada anggaran. Kita melakukan ini karena panggilan hati.
Kalau memang ada perhatian dari pemerintah, ya kami bersyukur,”
ucapnya.m10

kirim ke teman | versi cetak